ASUHAN KEPERAWATAN TUBERCULOSIS
|
No
|
Kompetensi
|
Elemen
kompetensi
|
|
1
|
Asuhan
keperawatan
Pasien
dengan tuberculosis
Tuberkulosis adalah infeksi saluran napas bawah. Penyakit ini disebabkan
oleh mikro-organisme Mycobacterium tubercolosis (Elizabeth J. Corwin 2009: hlm. 545).
Etiologi Tuberculosis ditularkan
melalui transmisi dari udara. Individu terinfeksi melalui berbicara, batuk,
bersin, dan tertawa atau bernyanyi. Penyebabnya yaitu Mycobacterium
Tuberculosis
|
1. Pengkajian
Keperawatan
a. Identitas pasien
b.
Keluhan utama : Demam,
terutama di siang hari , Malaise, Keringat malam, Hilangnya nafsu makan dan
penurunan berat badan, Batuk purulen produktif disertai nyeri dada pada
infeksi aktif
c. Riwayat
penyakit sekarang
d.
Riwayat penyakit yang pernah
diderita
e. Riwayat
gizi
f. Kondisi lingkungan : lingkungan dengan ventilasi kurang baik,
lingkungan padat penduduk
g.
Pola kebiasaan : kebiasaan merokok, terpapar asap kendaraan bermotor , dan
makan makanan kurang sehat
Data
subjectife
Klien mengeluh batuk sudah > 2
minggu disertai sputum, klien mengeluh lemas, pusing dan penurunan nafsu
makan
Data
objectife :
Klien tampak lemas
Klien belum mampu beraktivitas secara
normal
Intensitas batuk sering
Batuk darah negatif
Pemeriksaan fisik
·
inspeksi,
·
palpasi,
·
auskultasi : suara bronkhial dan
suara tambahan ronkhi basah kasar yang nyaring.
·
perkusi : pada lapang paru terdengar redup
Pemeriksaan Diagnostik
a. pemeriksaan
laboratorium (Hb,Ht,Trombo,Leuko, Eritrosit)
b. pemeriksaan
sputum
c. tes
tuberculin
d. pemeriksaan
radiologi thorak
e. Biopsy
jarum pada jaringan paru:
|
|
|
|
2. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko penyebaran infeksi
berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, penurunan
pertahanan/penekanan proses inflamasi.
2. Bersihan jalan nafas tidak
efektif berhubungan dengan sekret kental, kelemahan, upaya batuk buruk.
3. Gangguan pertukaran gas
berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru, kerusakan membran
alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial.
4. Gangguan kebutuhan nutrisi,
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat,
kelelahan
|
|
|
|
Rencana tindakan :
terlampir
|
|
|
|
Tindakan keperawatan
1. Ukur
tanda vital,
2. Kaji
integritas kulit,
3. observasi
intake output
4. awasi
pola aktivitas klien
5. pantau
pengeluaran sputum
Kolaborasi :
1)
pemeriksaan rontgen thorak
2) Awasi pemeriksaan laboratorium,
3) pemeriksaan
sputum
4) tes
tuberculin
5) Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin. Pemberian
terapi Pyrazinamid (PZA)/ Aldinamide,
para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin
|
|
|
|
Evaluasi
Hasil yang
diharapkan, pasien dapat :
1)
Keefektifan bersihan jalan nafas
2)
Fungsi pernapasan adekuat untuk memenuhi kebutuhan individu.
3)
Perilaku/ pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi.
4)
Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi
malnutrisi
5)
Pemahaman tentang proses penyakit/ prognosis dan program pengobatan dan
perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan.
6)
Infeksi tidak terjadi.
|
Rencana
Keperawatan
|
no
|
Diagnosa keperawatan
|
Tujuan
|
Intervensi
|
|
1
|
1.
Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi
berhubungan dengan daya tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun, sekret
yang menetap, kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar, malnutrisi,
terkontaminasi oleh lingkungan, kurang pengetahuan tentang infeksi kuman.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam, Klien menunjukkan tidak terjadi penyebaran infeksi
KH
:
·
Suhu 36,5-37,1 °C,
·
penyebaran infeksi (pleura, saluran pernapasan lainnya)
tidak terjadi ditandai tidak adanya keluhan nyeri dada, kesadaran
composmentis,
·
klien menunjukkan perilaku pencegahan infeksi (mencuci
tangan),
·
hasil laboratoriun 5000-10.000/ ul, LED 0,1-20 mm/ jam.
|
a.
Observasi patologi penyakit fase
aktif/ tidak aktif, penyebaran infeksi melalui bronkus pada jaringan
sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui
batuk, bersin, meludah, tertawa, ciuman atau menyanyi.
b.
Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan
yang tertutup jika batuk.
c.
Monitor temperatur.
d.
Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang
tuberkulosis paru, seperti: alkoholisme, malnutrisi, menggunakan obat penekan
imun/ kortikosteroid, adanya diabetes mellitus, kanker.
e.
Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani.
f.
Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin. Pemberian
terapi Pyrazinamid (PZA)/ Aldinamide,
para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin.
g.
Monitor sputum BTA
|
|
2
|
Bersihan jalan napas tidak efektif
berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah, Kelemahan, upaya batuk
buruk. Edema trakeal/ faringeal.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam bersihan jalan nafas klien kembali efektif
KH :
·
RR 16-20x/menit,
·
suara nafas vesikuler, r
·
onkhi tidak ada, penggunaan otot bantu pernafasan tidak
ada,
·
sesak dan batuk tidak terjadi,
·
membran mukosa kemerahan, pengembangan dada simetris
·
sputum tidak ada.
|
a. Observasi fungsi
pernapasan: bunyi napas, kecepatan, irama, kedalaman dan penggunaan otot
aksesori.
b. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk
efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.
c. Berikan pasien posisi semi fowler atau fowler
d. Bantu/ Ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam.
e. Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml dalam keadaan hangat.
f. Lembabkan udara/ oksigen
inspirasi.
Kolaborasi :
·
Lakukan inhalasi
·
Berikan obat: Agen mukolitik, bronkodilator, kortikosteroid sesuai
indikasi.
Bantu inkubasi darurat bila perlu.
.
|
|
3
|
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan
permukaan paru, atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, Sekret yang
kental, edema bronchial
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam , gangguan pertukaran gas tidak terjadi
KH:
·
RR 16-20x/menit,
·
warna kulit dan membran mukosa kemerahan,
·
sesak atau tanda-tanda distress pernafasan tidak
terjadi,
·
hasil AGD dalam batas normal PH 7,37-7,44, PCO2
35-45 mmHg, PO2 83-108 mmHg, BP 750, HCO3 21-28 mmol/
L, O2 saturasi 95-99 %, BE -2,-5-2,5 mmol/ L.
|
a. Observasi
dispnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal. Peningkatan upaya
respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan
b. Evaluasi perubahan tingkat kesadaran, catat tanda-tanda
sianosis dan perubahan warna kulit, membran mukosa, dan warna kuku.
c. Anjurkan untuk bedrest, batasi dan bantu aktivitas
sesuai kebutuhan.
Kolaborasi :
·
Monitor GDA.
·
Berikan oksigen sesuai indikasi.
|
|
4
|
Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
kelelahan, batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam, kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
KH
:
·
Berat badan ideal, LILA 24-26 cm,
·
nafsu makan baik,
·
makan habis 1 porsi,
·
mual dan muntah tidak ada,
·
hasil laboratorium Hb 11,7-15,5 g/dl, albumin 2.50-3.00
mg/ dl.
|
a.
Catat status nutrisi pasien: turgor kulit, timbang berat badan,
integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/
rnuntah atau diare.
b.
Observasi pola diet pasien
yang disukai/ tidak disukai.
c.
Monitor intake dan output secara periodik.
d.
Catat adanya anoreksia, mual,
muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi buang air besar (BAB).
e.
Anjurkan bedrest.
f.
Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan
pernapasan.
g.
Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi
protein dan karbohidrat
Kolaborasi :
h.
Rujuk ke ahli gizi untuk
menentukan komposisi diet
Rasional:
Memberikan bantuan dalarn
perencaaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan
metabolik dan diet.
i.
Lakukan pemasangan nasogastotestinal (NGT)
j.
Konsul dengan tim medis untuk
jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/ setelah makan
k.
Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum,
dan albumin)
l.
Berikan antipiretik tepat.
|
patofisiologi
No comments:
Post a Comment