Monday, August 27, 2018

LOOG BOOK ASUHAN KEPERAWATAN TUBERCULOSIS


ASUHAN KEPERAWATAN TUBERCULOSIS

No
Kompetensi
Elemen kompetensi
1
Asuhan keperawatan
Pasien dengan tuberculosis

Tuberkulosis adalah infeksi saluran napas bawah. Penyakit ini disebabkan oleh mikro-organisme Mycobacterium tubercolosis (Elizabeth J.  Corwin 2009: hlm. 545).

Etiologi Tuberculosis  ditularkan melalui transmisi dari udara. Individu terinfeksi melalui berbicara, batuk, bersin, dan tertawa atau bernyanyi. Penyebabnya yaitu Mycobacterium Tuberculosis

1.  Pengkajian Keperawatan
a.  Identitas pasien
b. Keluhan utama : Demam, terutama di siang hari , Malaise, Keringat malam, Hilangnya nafsu makan dan penurunan berat badan, Batuk purulen produktif disertai nyeri dada pada infeksi aktif
c. Riwayat penyakit sekarang
d.   Riwayat penyakit yang pernah diderita
e. Riwayat gizi
f.  Kondisi lingkungan  : lingkungan dengan ventilasi kurang baik, lingkungan padat penduduk
g. Pola kebiasaan : kebiasaan merokok, terpapar asap kendaraan bermotor , dan makan makanan kurang sehat
Data subjectife
Klien mengeluh batuk sudah > 2 minggu disertai sputum, klien mengeluh lemas, pusing dan penurunan nafsu makan
Data objectife :
Klien tampak lemas
Klien belum mampu beraktivitas secara normal
Intensitas batuk sering
Batuk darah negatif
Pemeriksaan fisik
·          inspeksi,
·         palpasi,
·          auskultasi : suara bronkhial dan suara tambahan ronkhi basah kasar yang nyaring.
·          perkusi : pada lapang paru terdengar redup

 Pemeriksaan Diagnostik
a.       pemeriksaan laboratorium (Hb,Ht,Trombo,Leuko, Eritrosit)
b.      pemeriksaan sputum
c.       tes tuberculin
d.      pemeriksaan radiologi thorak
e.       Biopsy jarum pada jaringan paru:


2.  Diagnosa Keperawatan
1.    Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, penurunan pertahanan/penekanan proses inflamasi.
2.    Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental, kelemahan, upaya batuk buruk.
3.    Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial.
4.    Gangguan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat, kelelahan


Rencana tindakan :
 terlampir


Tindakan keperawatan
1.      Ukur tanda vital,
2.      Kaji integritas kulit,
3.      observasi intake output
4.      awasi pola aktivitas klien
5.      pantau pengeluaran sputum

Kolaborasi :
1)      pemeriksaan rontgen thorak
2)       Awasi pemeriksaan laboratorium,
3)      pemeriksaan sputum
4)      tes tuberculin
5)      Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/ Aldinamide, para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin



Evaluasi
Hasil yang diharapkan, pasien dapat : 
1)        Keefektifan bersihan jalan nafas
2)        Fungsi pernapasan adekuat untuk memenuhi kebutuhan individu.
3)        Perilaku/ pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi.
4)        Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi
5)        Pemahaman tentang proses penyakit/ prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan.
6)        Infeksi tidak terjadi.




Rencana Keperawatan

no
Diagnosa keperawatan
Tujuan
Intervensi
1
1.   Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan daya tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun, sekret yang menetap, kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar, malnutrisi, terkontaminasi oleh lingkungan, kurang pengetahuan tentang infeksi kuman.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama   x 24 jam, Klien menunjukkan tidak terjadi penyebaran infeksi


KH   : 
·         Suhu 36,5-37,1 °C,
·         penyebaran infeksi (pleura, saluran pernapasan lainnya) tidak terjadi ditandai tidak adanya keluhan nyeri dada, kesadaran composmentis,
·         klien menunjukkan perilaku pencegahan infeksi (mencuci tangan),
·         hasil laboratoriun 5000-10.000/ ul, LED 0,1-20 mm/ jam.
a.         Observasi   patologi penyakit fase aktif/ tidak aktif, penyebaran infeksi melalui bronkus pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk, bersin, meludah, tertawa, ciuman atau menyanyi.
b.         Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk.
c.         Monitor temperatur.
d.        Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang tuberkulosis paru, seperti: alkoholisme, malnutrisi, menggunakan obat penekan imun/ kortikosteroid, adanya diabetes mellitus, kanker.
e.         Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani.
f.          Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/ Aldinamide, para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin.
g.         Monitor sputum BTA
2
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah, Kelemahan, upaya batuk buruk. Edema trakeal/ faringeal.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama   x 24 jam bersihan jalan nafas klien kembali efektif

KH :
·         RR 16-20x/menit,
·         suara nafas vesikuler, r
·         onkhi tidak ada, penggunaan otot bantu pernafasan tidak ada,
·         sesak dan batuk tidak terjadi,
·         membran mukosa kemerahan, pengembangan dada simetris
·         sputum tidak ada.    
a.    Observasi  fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan, irama, kedalaman dan penggunaan otot aksesori.
b.    Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.
c.    Berikan pasien posisi semi fowler atau fowler
d.   Bantu/ Ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam.
e.    Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml dalam keadaan hangat.
f.     Lembabkan udara/ oksigen inspirasi.
Kolaborasi :
·         Lakukan inhalasi
·         Berikan obat: Agen mukolitik, bronkodilator, kortikosteroid sesuai indikasi.
Bantu inkubasi darurat bila perlu.
.

3
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, Sekret yang kental, edema bronchial

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama   x 24 jam , gangguan pertukaran gas tidak terjadi

KH:
·         RR 16-20x/menit,
·         warna kulit dan membran mukosa kemerahan,
·         sesak atau tanda-tanda distress pernafasan tidak terjadi,
·         hasil AGD dalam batas normal PH 7,37-7,44, PCO2 35-45 mmHg, PO2 83-108 mmHg, BP 750, HCO3 21-28 mmol/ L, O2 saturasi 95-99 %, BE -2,-5-2,5 mmol/ L.

a.    Observasi  dispnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal. Peningkatan upaya respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan
b.    Evaluasi perubahan tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit, membran mukosa, dan warna kuku.
c.    Anjurkan untuk bedrest, batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan.
Kolaborasi :
·         Monitor GDA.
·         Berikan oksigen sesuai indikasi.
4
Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan, batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama   x 24 jam, kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.


KH   : 
·         Berat badan ideal, LILA 24-26 cm,
·         nafsu makan baik,
·         makan habis 1 porsi,
·         mual dan muntah tidak ada,
·         hasil laboratorium Hb 11,7-15,5 g/dl, albumin 2.50-3.00 mg/ dl.

a.    Catat status nutrisi pasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/ rnuntah atau diare.
b.      Observasi  pola diet pasien yang disukai/ tidak disukai.
c.    Monitor intake dan output secara periodik.
d.     Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi buang air besar (BAB).
e.      Anjurkan bedrest.
f.       Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan.
g.     Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat
Kolaborasi :
h.      Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet
     Rasional: Memberikan bantuan dalarn perencaaan diet dengan nutrisi    adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet.
i.          Lakukan pemasangan nasogastotestinal (NGT)
j.        Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/ setelah makan
k.     Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, dan albumin)
l.      Berikan antipiretik tepat.








https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpXbS2N2JIlN0egSvmtLKAx8xw4acMGshlaLZuTG1i_PLqPj65fW0ScC89VtDAXmUkXy_A9OgR__E3xca2hmzO428aeXLZEaloD9HLg52pomIrXR67LBXIgMYSFIIiPY_PCRvnyjIIoJE/s1600/Pathway+TBC+(Tuberkulosis).jpgpatofisiologi

No comments:

Post a Comment