DIABETES
MELLITUS
2.1.1
Definisi Diabetes Mellitus (DM)
Menurut
American Diabetes Association
(ADA), DM adalah kelompok
penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah
(hiperglikemia) yang terjadi akibat gangguan sekresi insulin, penurunan kerja
insulin, atau akibat dari keduanya. Diagnosis DM menurut ADA jika hasil
pemeriksaan gula darah: 1) kadar gula darah sewaktu lebih atau sama dengan 200
mg/dl, 2) kadar gula puasa lebih atau sama dengan 126 mg/dl, 3) kadar gula
darah lebih atau sama dengan 200 mg/dl pada 2 jam setelah beban glukosa 75 pada
tes toleransi glukosa (ADA, 2011).
DM merupakan penyakit kronik,
progresif dengan karakteristik ketidak mampuan tubuh dalam proses metabolisme
karbohidrat, lemak, dan protein, yang menyebabkan peningkatan level gula darah
(Black & Hawks,2009).
DM adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena peningkatan kadar glukosa darah akibat penurunan sekresi
insulin yang progresif dilatar belakangi oleh resistensi insulin(Soegondo
dkk,2011).
2.1.2 Patofisiologi Diabetes
Mellitus
Pankreas
yang disebut kelenjar ludah perut, adalah kelenjar penghasil insulin yang
terletak di belakang lambung. Di dalamnya terdapat kumpulan sel yang berbentuk
seperti pulau pada peta, karena itu disebut pulau-pulau
Langerhans yang berisi sel β yang mengeluarkan hormone insulin yang sangt
berperan dalam mengatur kadar glukosa darah.Insulin yang dikeluarkan oleh sel
beta tadi dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu
masuknya glukosa ke dalam sel, untuk kemudian di dalam sel glukosa tersebut
dimetabolisasikan menjadi tenaga. Bila isulin tidak ada, maka glukosa dalam
darah tidak dapat masuk ke dalam sel dengan akibat kadar glukosa dalam darah
tidak dapat masuk ke dalam sel dengan akibat kadar glukosa dalam darah meningkat.
Keadaan inilah yang terjadi pada DM tipe I (Imam subekti, 2009).
Pada
keadaan DM tipe II, jumlah insulin bisa normal, bahkan lebih banyak, tetapi
jumlah reseptor (penangkap) insulin di permukaan sel kurang. Reseptor insulin
ini dapat diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel. Pada
keadaan DM tipe II, jumlah lubang kuncinya kurang, sehingga meskipun anak
kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang,
maka glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit, sehingga sel kekurangan bahan
bakar (glukosa) dan kadar glukosa dalam darah meningkat. DM tipe II juga bisa
terjadi akibat gangguan transport glukosa di dalam sel sehingga gagal digunakan
sebagai bahan bakar untuk metabolism energy (Imam subekti, 2009).
2.1.3. Penyebab Diabetes Mellitus
Penyebab
diabetes adalah pankreas yang tidak dapat menghasilkan insulin sesuai dengan
kebutuhan tubuh (Charles dan Anne, 2010). Insulin berperan utama dalam mengatur
kadar glukosa dalam darah, yaitu 60-120 mg/dl waktu puasa dan dibawah 140 mg/dl
pada dua jam sesudah makan (orang normal) (Tjokroprawiro, 2006).
Ada
bebrapa faktor yang menyebabkan Diabetes Mellitus sebagai berikut :
1.
Pola makan
Pola
makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang dibutuhkan oleh
tubuh dapat memacu timbulnya DM. Hal ini disebabkan jumlah atau kadar insulin
oleh sel β pankreas mempunyai kapasitas maksimum untuk
disekresikan (Wijayakusuma, 2004). Penderita diabetes yang terlalu kerap
memakan makanan terutama yang memiliki kandungan glukosa tinggi namun tidak
disertai dengan aktivitas fisik yang cukup untuk membakar timbunan sumber
energi. Akibatnya terjadi penumpukan glukosa yang tidak mampu di uraikan oleh
hormon insulin. Produksi insulin dalam tubuh akan menurun, gula darah akan
tetap menumpuk dalam bentuk kristal dalam darah. Penumpukan kristal ini akan
memberi efek penyakit berantai selanjutnya (AnneAhira, 2010).
2.
Usia
Diabetes Mellitus tipe II biasanya
terjadi setelah usia 30 tahun dan semakin sering terjadi setelah usia 40 tahun,
selanjutnya terus meningkat pada usia lanjut. Usia lanjut yang mengalami
gangguan toleransi glukosa mencapai 50-92% . Umur sangat erat kaitannya dengan
terjadinya kenaikan kadar glukosa darah, sehingga semakin meningkat usia maka
prevalensi diabetes dan gangguan toleransi glukosa semakin tinggi. Perubahan
dimulai dari tingkat sel, berlanjut pada tingkat jaringan dan akhirnya pada tingkat
organ yang dapat mempengaruhi fungsi homeostasis. Komponen tubuh yang dapat
mengalami perubahan adalah sel beta pankreas yang menghasilkan hormon insulin,
sel-sel jaringan target yang menghasilkan glukosa, sistem saraf, dan hormon
lain yang mempengaruhi kadar glukosa.
3.
Jenis kelamin
Jenis kelamin laki-laki memiliki
risiko Diabetes meningkat lebih cepat. Diabetes tipe II pada umumnya memiliki
indeks massa tubuh (IMT) di tas batas kegemukan. Laki-laki terkena Diabetes
pada IMT rata-rata 31,83 kg/m2 sedangkan perempuan baru mengalaminya pada IMT
33,69 kg/m2. Perbedaan risiko ini dipengaruhi oleh distribusi lemak tubuh. Pada
laki-laki, penumpukan lemak terkonsentrasi di sekitar perut sehingga memicu
obesitas sentral yang lebih berisiko memicu gangguan metabolisme
4.
Obesitas
Orang
yang gemuk dengan berat badan melebihi 90 kg mempunyai kecenderungan yang lebih
besar untuk terserang DM dibandingkan dengan orang yang tidak gemuk
(Wijayakusuma, 2004). Pada kegemukan atau obesitas, sel-sel lemak juga ikut
gemuk dan sel seperti ini akan menghasilkan beberapa zat yang digolongkan
sebagai adipositokin yang jumlahnya lebih banyak dari keadaan pada waktu tidak
gemuk. Zat-zat itulah yang menyebabkan resistensi terhadap insulin (Hartini,
2009).
5.
Faktor Genetik
Seorang
anak dapat diwarisi gen penyebab DM orang tua. Biasanya, seseorang yang
menderita DM mempunyai anggota keluarga yang juga terkena (Wijayakusuma, 2004).
Anggota keluarga penderita DM memiliki kemungkinan lebih besar terserang
penyakit ini dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak menderita DM. Para
ahli kesehatan juga menyebutkan diabetes mellitus merupakan penyakit yang
terpaut kromosom seks. Biasanya kaum laki-laki menjadi penderita sesungguhnya,
sedangkan perempuan sebagai pihak yang membawa gen untuk diwariskan kepada
anak-anaknya (Maulana, 2008).
6.
Bahan-bahan Kimia dan Obat-obatan
Bahan kimiawi tertentu dapat
mengiritasi pankreas yang menyebabkan radang pankreas. Peradangan pada pankreas
dapat menyebabkan pankreas tidak berfungsi secara optimal
dalam mensekresikan hormon yang diperlukan untuk metabolisme dalam tubuh,
termasuk hormon insulin. Segala jenis residu obat yang terakumulasi dalam waktu
yang lama dapat mengiritasi pankreas (Wijayakusuma, 2004).
7.
Penyakit dan Infeksi pada Pankreas
Mikroorganisme
seperti bakteri dan virus dapat menginfeksi pankreas sehingga menimbulkan
radang pankreas. Hal itu menyebabkan sel β pada pankreas tidak bekerja secara
optimal dalam mensekresi insulin (Wijayakusuma, 2004). Virus yang menyebabkan
DM adalah rubella, mumps, dan human coxsackievirus B4. Diabetes mellitus akibat
bakteri masih belum bisa dideteksi. Namun, para ahli kesehatan menduga bakteri
cukup berperan menyebabkan DM (Maulana, 2008).
2.1.4
Gejala dan Pencegahan Diabetes
Mellitus
a. Gejala Akut Diabetes Mellitus
Tiga
gejala permulaan yang ditujukan adalah poliuria (peningkatan pengeluaran urin),
polifagia (peningkatan rasa lapar), polidipsia (peningkatan rasa haus) akibat
volume urin yang sangat besar dan keluarnya air menyebabkan dehidrasi
ekstrasel. Dehidrasi intrasel mengikuti dehidrasi ekstrasel karena air intrasel
akan berdifusi keluar sel mengikuti penurunan gradien konsentrasi ke plasma
yang hipertonik (sangat pekat). Dehidrasi intrasel merangsang pengeluaran ADH
(Anti Diuretik Hormone) dan menimbulkan rasa haus (Riyadi, 2007).
b.
Gejala
Kronik Diabetes Mellitus
Peningkatan
angka infeksi akibat penurunan protein sebagai bahan pembentukan antibodi,
peningkatan konsentrasi glukosa disekresi mukus, gangguan fungsi imun, dan
penurunan aliran darah pada penderita diabetes kronik (Riyadi, 2007).
Kadang-kadang penderita penyakit diabetes mellitus tidak menunjukkan gejala
akut (mendadak), tetapi penderita tersebut baru menunjukkan gejala sudah
bebarapa bulan atau beberapa tahun mengidap penyakit diabetes mellitus. Gejala
kronik yang sering timbul adalah kesemutan, kulit terasa panas atau seperti
tertusuk-tusuk jarum, rasa tebal di kulit, sehingga kalau berjalan seperti
diatas bantal atau kasur, kram, capai, mudah mengantuk, mata kabur, gatal
disekitar kemaluan terutama wanita, gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan
seksual menurun bahkan impoten (Tjokroprawiro, 2006).
c.
Pencegahan
Diabetes Mellitus
Upaya pencegahan Diabetes Mellitus
ada dua jenis atau tahap yaitu :
1) Pencegahan primer
Pencegahan
terjadinya diabetes mellitus pada individu yang beresiko melalui modifikasi
gaya hidup (pola makan sesuai, aktivitas fisik, penurunan berat badan) dengan
didukung program edukasi yang berkelanjutan (Maulana, 2008).
a)
Penyuluhan
Edukasi DM adalah pendidikan dan
latihan mengenai pengetahuan mengenai DM. Disamping kepada pasien DM, edukasi
juga diberikan kepada anggota keluarganya, kelompok masyarakat beresiko tinggi
dan pihak-pihak perencana kebijakan kesehatan. Berbagai materi yang perlu
diberikan kepada pasien DM adalah definisi penyakit DM, faktor-faktor yang
berpengaruh pada timbulnya DM dan upaya-upaya menekan DM, pengelolaan DM secara
umum, pencegahan dan pengenalan komplikasi DM, serta pemeliharaan kaki.
b)
Latihan Jasmani
Latihan jasmani yang teratur (3-4 kali seminggu
selama kurang lebih 30 menit) memegang peran penting dalam pencegahan primer
terutama pada DM Tipe 2. Orang yang tidak berolah raga memerlukan insulin 2
kali lebih banyak untuk menurunkan kadar glukosa dalam darahnya dibandingkan
orang yang berolah raga. Manfaat latihan jasmani yang teratur pada penderita DM
antara lain :
·
Memperbaiki metabolisme yaitu
menormalkan kadar glukosa darah dan lipid darah
·
Membantu menurunkan berat badan
·
Meningkatkan kesegaran jasmani dan
rasa percaya diri
·
Mengurangi resiko penyakit
kardiovaskular
Latihan jasmani yang dimaksud
dapat berupa jalan, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Latihan jasmani
sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani.
c)
Perencanaan Pola Makan
Perencanaan pola makan yang baik
dan sehat merupakan kunci sukses manajemen DM. Seluruh penderita harus
melakukan diet dengan pembatasan kalori, terlebih untuk penderita dengan
kondisi kegemukan. Menu dan jumlah kalori yang tepat umumnya dihitung
berdasarkan kondisi individu pasien.
Perencanaan makan merupakan salah
satu pilar pengelolaan DM, meski sampai saat ini tidak ada satupun perencanaan
makan yang sesuai untuk semua pasien, namun ada standar yang dianjurkan yaitu
makanan dengan komposisi yang seimbang dalam karbohidrat, protein, dan lemak
sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut: Karbohidrat = 60-70 %,
Protein = 10-15 %, dan Lemak = 20-25 %.
Jumlah asupan kolesterol perhari
disarankan < 300 mg/hari dan diusahakan lemak berasal dari sumber asam lemak
tidak jenuh dan membatasi PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acid) dan asam lemak
jenuh. Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan,
status gizi, umur, ada tidaknya stress akut dan kegiatan jasmani.
2) Pencegahan
sekunder
Tindakan
pencegahan terjadinya komplikasi akut. Programnya meliputi pemeriksaan dan
pengobatan tekanan darah, perawatan kaki diabetes, pemeriksaan mata secara
rutin, pemeriksaan protein dalam urine dan program menurunkan atau menghentikan
kebiasaan merokok (Maulana, 2008).
3) Pencegahan
tersier
Semua
upaya untuk mencegah komplikasi atau kecacatan akibat komplikasi itu. Usaha ini
meliputi mencegah timbulnya komplikasi, mencegah progresi daripada komplikasi
itu supaya tidak menjadi kegagalan organ, mencegah kecacatan tubuh (Atun,
2009).
Menurut Soegondo, 2011 Penderita DM
dapat mencegah atau
paling tidak memperlambat perkembangan komplikasi di atas
dengan memantau dan mengendalikan empat factor yaitu :
1
Kontrol Kadar Gula Darah
Pemeriksaan kadar glukosa darah yang dilakukan di
laboratorium dengan metode oksidasi glukosa atau o-toluidin memberikan hasil
yang lebih akurat. Oleh karena itu untuk menentukan diagnosa DM. Namun dengan
adanya uji strip glukosa darah baik yang menggunakan glucometer maupun secara
kasat mata, memungkinkan pasien melakukan pemeriksaan kadar glukosa darah
sendiri di rumah.
2
Aktivitas / Olahraga
Olahraga selama 30-40 menit dapat meningkatkan
pemasukan glukosa ke dalam sel sebesar 7-20 kali lipat dibandingkan tanpa olah
raga. Olahraga yang tepat untuk DM adalah jalan, jogging, renang, dan
bersepeda, aerobik (Soegondo dkk, 2011).
3
Diet
The American Cancer
Society, The American Heart Association dan The American Diabetic
Association menyarankan 25-35 g fiber/
hari dari berbagai bahan makanan
seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Konsensus nasional pengelolaan diabetes
di Indonesia menyarankan 20 - 25 g/hari bagi orang yang berisiko menderita DM
(Soegondo dkk, 2011)
4.
Kepatuhan Minum Obat
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan
minum obat pasien pada pengobatan penyakit yang bersifat kronis pada umumnya
rendah. Penelitian yang melibatkan pasien berobat jalan menunjukkan bahwa lebih
dari 70% pasien tidak minum obat sesuai dengan dosis yang seharusnya (Basuki,
2009).
Keluhan
dan gejala yang khas ditambah hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200
mg/dl, glukosa darah puasa >126 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis
DM. Untuk diagnosis DM dan gangguan toleransi glukosa lainnya diperiksa glukosa
darah 2 jam setelah beban glukosa. Sekurang-kurangnya diperlukan kadar glukosa
darah 2 kali abnormal untuk konfirmasi diagnosis DM pada hari yang lain atau
Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) yang abnormal. Konfirmasi tidak diperlukan pada
keadaan khas hiperglikemia dengan dekompensasi metabolik akut, seperti
ketoasidosis, berat badan yang menurun cepat, dll. Ada perbedaan antara uji
diagnostik DM dan pemeriksaan penyaring. Uji diagnostik dilakukan untuk
menunjukan gejala DM, sedangkan pemeriksaan penyaring bertujuan untuk
mengidentifikasi yang tidak bergejala, tapi punya resiko DM (usia >45 tahun,
berat badan lebih, hipertensi, riwayat keluarga DM, riwayat abortus berulang,
melahirkan bayi >4000 gr, kolesterol HDL <= 35 mg/dl, atau trigliserida
>= 250 mg/dl) (Budiyanto, 2009).
2.1.6
Klasifikasi Diabetes Mellitus
Berdasarkan klasifikasi dari WHO
(1985) dibagi beberapa type yaitu :
1.
Diabetes
mellitus type I, Insulin Dependen diabetes mellitus (IDDM) yang dahulu dikenal
dengan nama Juvenil Onset diabetes
(JOD), klien tergantung pada pemberian insulin untuk mencegah terjadinya
ketoasidosis dan mempertahankan hidup. Biasanya pada anak-anak atau usia muda
dapat disebabkan karena keturunan (Harnawatiaj, 2008).
2.
Diabetes
mellitus type II, Non Insulin Dependen diabetes mellitus (NIDDM), yang dahulu
dikenal dengan nama Maturity Onset diabetes (MOD) terbagi dua yaitu:
1.
Non
obesitas
Disebabkan karena memiliki
resistensi insulin dan faktor resiko metabolic, terutama pada individu yang
memiliki kedua orang tua yang diabetes atau keluarga inti
maupun tingkat kedua yang diabetes, biasanya terjadi pada individu yang
non-diabetes (Sugondo dan Gustaviani, 2006).
2) Obesitas
Disebabkan karena kurangnya produksi
insulin dari sel beta pankreas, tetapi biasanya resistensi aksi insulin pada
jaringan perifer. Biasanya terjadi pada orang tua (umur lebih 40 tahun) atau
anak dengan obesitas (Harnawatiaj, 2008).
3.
Diabetes
mellitus type lain
a)
Diabetes
oleh beberapa sebab seperti kelainan pankreas, kelainan hormonal, diabetes
karena obat/zat kimia, kelainan reseptor insulin, kelainan genetik dan
lain-lain.
b)
Obat-obat
yang dapat menyebabkan huperglikemia antara lain : Furasemid, thyasida diuretic
glukortikoid, dilanting dan asam hidotinik
c)
Diabetes
Gestasional (diabetes kehamilan) intoleransi glukosa selama kehamilan, tidak
dikelompokkan kedalam NIDDM pada pertengahan kehamilan meningkat sekresi hormon
pertumbuhan dan hormon chorionik somatomamotropin (HCS). Hormon ini meningkat
untuk mensuplai asam amino dan glukosa ke fetus (Harnawatiaj, 2008).
Penelitian Phitri & Widyaningsih
(2013) menggambarkan tingkat kepatuhan diet pada penderita diabetes melitus.
Hasil penelitian yang diperoleh, dapat diketahui bahwa sebagian besar diabetisi
tidak patuh terhadap program diet yaitu sebanyak 31 responden (57,4 %) dan 23
responden (42,6%) patuh terhadap program diet.
Penelitian Silaban (2013) pada
penderita diabetes melitus di RSUD Dr. Pirngadi Medan menggambarkan tingkat
kualitas hidup penderita DM didapatkan hasil yaitu dari 37 responden diketahui
ada 9 responden (24.3%) memiliki kualitas hidup yang baik dengan mean diatas
50% dan 28 responden (75.7%) kualitas hidupnya buruk dengan mean dibawah 50%.
Penelitian Larasati (2012) pada
penderita diabetes melitus di RS Abdul Moloek Provinsi Lampung menggambarkan
tingkat kualitas hidup penderita DM. Didapatkan hasil bahwa lebih dari separuh
responden memiliki gambaran kualitas
Universitas Sumatera Utara hidup
sedang yaitu sebanyak 59,6% (53 orang). Kualitas hidup baik sebanyak 27,0% (24
orang) dan kualitas hidup buruk sebanyak 13,3% (12 orang)