TINJAUAN
TEORI
2.1 DEFINISI HIPERTENSI
Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan
tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Tekanan darah diukur dengan spygmomanometer
yang telah dikalibrasi dengan tepat (80% dari ukuran manset menutupi
lengan) setelah pasien beristirahat nyaman, posisi duduk punggung tegak atau
terlentang paling sedikit selama 5 menit sampai 30 menit. (Armilawati dkk,
2007)
Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan sebagai
hipertensi esensial. Beberapa penulis lebih memilih istilah hipertensi primer
untuk membedakannya dengan hipertensi lain yang sekunder karena sebab-sebab
yang diketahui. Menurut The Seventh Report of The Joint National
Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High
Blood Pressure (JNC VII) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa
terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan
derajat 2. (Yogiantoro, 2006)
Menurut Djoko santoso
(2010) Hipertensi menunjukkan kondisi dimana aliran darah pada arteri
bertekanan terlalu tinggi untuk tubuh yang sehat. Hipertensi sama untuk semua
golongan umur dan pengobatannya didasarkan bukan atas umur akan tetapi pada
tingkat tekanan darah dan adanya risiko kardiovaskuler yang ada pada pasien (Aru,
2010).
2.2 EPIDEMIOLOGI
Semakin meningkatnya populasi usia lanjut maka jumlah pasien dengan
hipertensi kemungkinan besar juga akan bertambah. (Yogiantoro, 2006)
Diperkirakan sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi
terutama di negara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun
2000, di perkirakan menjadi 1,15 milyar
kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi
saat ini dan pertambahan penduduk saat ini. (Wade dkk, 2003)
Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak dikumpulkan dan
menunjukkan di daerah pedesaan masih banyak penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Baik
dari segi case finding maupun penatalaksanaan pengobatannya. Jangkauan
masih sangat terbatas dan sebagian besar penderita hipertensi tidak mempunyai
keluhan. Prevalensi terbanyak berkisar antara 6 sampai dengan 15%, tetapi angka
prevalensi yang rendah terdapat di Ungaran, Jawa Tengah sebesar 1,8% dan Lembah
Balim Pegunungan Jaya Wijaya, Irian Jaya sebesar 0,6% sedangkan angka
prevalensi tertinggi di Talang Sumatera Barat 17,8%. (Armilawati dkk, 2007)
2.3 ETIOLOGI
Penyebab
hipertensi dibagi menjadi dua golongan menurut Dr.Iskandar Junaidi, 2010 yaitu
:
2.3.1
Hipertensi Primer/esensial
Hipertensi
esensial merupakan hipertensi yang memiliki beberapa kemungkinan penyebabnya.
Beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah dapat menyebabkan
peningkatan tekanan darah. Hipertensi primer terjadi karena kondisi masyarakat
yang memiliki asupan garam cukup tinggi, lebih dari 6,8 gram setiap hari, serta
karena faktor genetik. (terdapat pada
kurang lebih 90% dari seluruh kejadian hipertensi)
2.3.2 Hipertensi sekunder
Hipertensi
sekunder merupakan hipertensi yang disebabkan karena gangguan pembuluh darah
atau organ tubuh tertentu, seperti ginjal, kelenjar adrenalin, dan aorta.
Penyebab hipertensi sekunder sekitar 5-10% berasal dari penyakit ginjal, dan
sekitar 1-2% karena kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya
pil KB). Penyebab lain yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada
kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinerin (adrenalin) atau norepinerin
(noradrenalin).
Penyebab hipertensi
belum diketahui secara pasti namun para ahli mengungkapkan ada 2 faktor yang
memiliki terjadinya penyakit hipertensi:
2.3.3.
Faktor
yang tidak dapat dikontrol/dimodifikasi :
2.3.3.1 Faktor genetik
Adanya faktor
genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko
menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler
dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium Individu dengan orang tua
dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita
hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat
hipertensi. 14 Selain itu didapatkan 70-80% kasus hipertensi esensial dengan
riwayat hipertensi dalam keluarga. (Anonim, 2008).
2.3.3.2 Umur
Insidensi
hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan umur. Pasien yang berumur di
atas 60 tahun, 50 – 60 % mempunyai tekanan darah lebih besar atau sama dengan
140/90 mmHg. Hal ini merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang
bertambah usianya.(Oktora R, 2007)
Hipertensi
merupakan penyakit multifaktorial yang munculnya oleh karena interaksi berbagai
faktor. Dengan bertambahnya umur, maka tekanan darah juga akan meningkat.
Setelah umur 45 tahun, dinding arteri akan mengalami penebalan oleh karena
adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot, sehingga pembuluh darah akan
berangsur-angsur menyempit dan menjadi kaku. Tekanan darah sistolik meningkat
karena kelenturan pembuluh darah besar yang berkurang pada penambahan umur
sampai dekade ketujuh sedangkan tekanan darah diastolik meningkat sampai dekade
kelima dan keenam kemudian menetap atau cenderung menurun. Peningkatan umur akan
menyebabkan beberapa perubahan fisiologis, pada usia lanjut terjadi peningkatan
resistensi perifer dan aktivitas simpatik. Pengaturan tekanan darah yaitu
refleks baroreseptor pada usia lanjut sensitivitasnya sudah berkurang,
sedangkan peran ginjal juga sudah berkurang dimana aliran darah ginjal dan laju
filtrasi glomerulus menurun. (Kumar V dkk, 2005)
2.3.3.3 Jenis kelamin
Prevalensi
terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita. Namun wanita terlindung
dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause. (Cortas K, 2008)
Wanita
yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan
dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar
kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya
proses arterosklerosis. Efek
perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada
usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi
sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah dari
kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah
kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi
pada wanita umur 45-55 tahun. (Kumar V dkk, 2005)
2.3.3.4 Etnis
Hipertensi lebih
banyak terjadi pada orang berkulit hitam dari pada yang berkulit putih. Sampai
saat ini, belum diketahui secara pasti penyebabnya. Namun pada orang kulit
hitam ditemukan kadar renin yang lebih rendah dan sensitifitas terhadap
vasopresin lebih besar. (Armilawaty dkk, 2007)
2.3.2.1
Faktor yang dapat dikontrol/dimodifikasi :
1.
Factor pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari
“Tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu
objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yaitu : Indra
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan domain yang
sangat penting untuk terbentuknya
perilaku seseorang. Perilaku yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan. (Notoadmodjo,2010), seseorang yang mempunyai
pengetahuan baik akan berprilaku baik dalam mengontrol tekanan darahnya. Kriteria tingkat pengetahuan, tingkat pengetahuan terdiri dari 3
kriteria yaitu baik, cukup dan kurang.Menurut Arikunto (2006) kriteria sesuatu itu baik jika hasil dari
presentasenya 76 – 100%, cukup jika mendapatkan hasil presentasi 56 –75%, dan
kurang jika presentasenya dibawah 56%.
2.
Obesitas
Beberapa penyeledikan telah membuktikan bahwa daya
pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi
lebih tinggi dibandingkan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal.
Penderita obesitas beresiko dua sampai enam kali lebih besar untuk terserang
hipertensi dibandingkan dengan orang yang berat badan normal. Efek samping
obesitas antara lain : Gangguan pernapasan, keluhan pada tulang, kelainan
kulit, pembengkakan/edema (Iskandar, 2010).
3.
Pola
asupan garam dalam diet
Badan kesehatan
dunia yaitu World Health Organization (WHO) merekomendasikan pola
konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Kadar sodium
yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium
atau 6 gram garam) perhari. (Shapo L dkk, 2003)
Konsumsi natrium yang
berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler
meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga
volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler
tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada
timbulnya hipertensi. (Widayanto D, 2008)
Karena itu disarankan untuk mengurangi konsumsi
natrium/sodium. Sumber natrium/sodium yang utama adalah natrium klorida (garam
dapur), penyedap masakan monosodium glutamate (MSG), dan sodium
karbonat. Konsumsi garam dapur (mengandung iodium) yang dianjurkan tidak
lebih dari 6 gram per hari, setara dengan satu sendok teh. Dalam kenyataannya,
konsumsi berlebih karena budaya masakmemasak masyarakat kita yang umumnya boros
menggunakan garam dan MSG. (Sianturi G, 2003)
4.
Merokok
Merokok menyebabkan
peninggian tekanan darah. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan
insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang
mengalami ateriosklerosis. (Armilawaty dkk, 2007). Dalam penelitian kohort prospektif oleh dr. Thomas S
Bowman dari Brigmans and Women’s Hospital, Massachussetts terhadap
28.236 subyek yang awalnya tidak ada riwayat hipertensi, 51% subyek tidak
merokok, 36% merupakan perokok pemula, 5% subyek merokok 1-14 batang rokok
perhari dan 8% subyek yang merokok lebih dari 15 batang perhari. Subyek terus
diteliti dan dalam median waktu 9,8 tahun. Kesimpulan dalam penelitian ini
yaitu kejadian hipertensi terbanyak pada kelompok subyek dengan kebiasaan
merokok lebih dari 15 batang perhari. (Bowman ST, 2007) Kebiasaan
merokok adalah keadaan dimana merokok merupakan suatu aktivitas yang rutin dilakukan oleh
responden (Khumaidah, 2009:79) Alat
ukur: kuisioner, Hasil
ukur: Kategori kebiasaan merokok dibagi menjadi 2 yaitu 1) Merokok dan 2)
Tidak merokok
5.
Stress
Stress
akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga
akan menstimulasi aktivitas saraf simpatis. Adapun stress ini dapat berhubungan
dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal.
(Armilawaty dkk, 2007). Cara pengukuran stress dibawah ini
Kessler
Psychological Distress Scale (KPDS) terdiri dari 10
pertanyaan yang diajukan kepada responden
dengan skor 1
untuk jawaban dimana responden tidak pernah mengalami stres, 2 untuk
jawaban dimana responden jarang mengalami stres, 3 untuk jawaban dimana
responden kadang-kadang mengalami stres,
4 untuk jawaban dimana responden sering mengalami stres dan 5
untuk jawaban dimana responden selalu mengalami stres dalam 30 hari terakhir.
Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal. Tingkat stres
dikategorikan sebagai berikut:
1)
Skor
di bawah 20 : tidak mengalami stres
2)
Skor
20-24 : stres ringan
3)
Skor
25-29 : stres sedang
4)
Skor
≥ 30 :
stres berat (Carolin, 2010).
6.
Aktivitas Fisik,
Faktor
selanjutnya yaitu aktivitas fisik, kurangnya aktivitas fisik seperti olahraga
membuat organ tubuh dan pasokan darah maupun oksigen menjadi tersendat sehingga
meningkatkan tekanan darah. (Potter & Perry 2005). Latihan fisik teratur
yang dapat meningkatkan kemampuan kapasitas
pernafasan pekerja, dalam penelitian ini kebiasaan latihan fisik di kategorikan
seperti untuk
olahraga lari (Jogging). Hasil
ukur: kategori kebiasaan olahraga dibagi menjadi 1)
latihan fisik dan 2) Tidak latihan fisik (Khumaidah,
2009:79)
2.4 KLASIFIKASI
Tabel 1. Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO tahun 2015
|
Kategori
|
Sistol (mmHg)
|
Diastol (mmHg)
|
|
Normal
|
<120
|
<80
|
|
Pra-Hipertensi
|
120-139
|
80-89
|
|
Hipertensi Tingkat 1
|
140-159
|
90-99
|
|
Hiperetnsi Tingkat 2
|
>160
|
>100
|
Tabel 2. Klasifikasi Hipertensi
Menurut Joint National Committee 8
tahun 2013
|
Kategori
|
Sistol (mmHg)
|
Dan/atau
|
Diastol (mmHg)
|
|
Normal
|
< 120
|
Dan
|
< 80
|
|
Pre hipertensi
|
120 – 139
|
Atau
|
80 – 89
|
|
Hipertensi tahap 1
|
140 – 159
|
Atau
|
90 – 99
|
|
Hipertensi tahap 2
|
≥ 160
|
Atau
|
≥ 100
|
2.5
PATOFISIOLOGI
Mekanisme yang
mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor
pada medula di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis yang
berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke
ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan
dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia
simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin yang akan
merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan
dilepaskannya norpinefrin mengakibatkan kontriksi pembuluh darah (Brunner,
2002).
Berbagai faktor seperti kecemasan dan
ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsangan
vasokontriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap
norpinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa
terjadi (Corwin, 2005).
Pada saat bersamaan
dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang
emosi, kelenjar adrenal juga terangsang mengakibatkan tambahan aktivitas
vasokontriksi. Korteks adrenal mengsekresikan kortisol dan steroid lainnya yang
dapat memperkuat respon vasokontriktor
pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke
ginjal dapat menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukkan
angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokontriktor
kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal.
Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal sehingga
menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung
mencetuskan keadaan hipertensi (Brunner, 2002).
Perubahaan struktural
dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer bertanggung jawab pada
perubahaan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia. Perubahaan tersebut
meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan
dalam relaksasi otot polos pembuluh darah yang menyebabkan penurunan distensi
dan daya regang pembuluh darah. Akibat hal tersebut, aorta dan arteri besar
mengalami penurunan kemampuan dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa
oleh jantung (volume sekuncup) sehingga mengakibatkan penurunan curah jantung
dan peningkatan tahanan perifer (Corwin, 2005)
2.6
Patogenesis Hipertensi
Patogenesis hipertensi primer sangat
kompleks dan multifaktorial. Faktor-faktor tersebut meliputi peningkatan
resistensi vaskular perifer, peningkatan curah jantung, peningkatan volume
darah, peningkatan kekentalan/viskositas darah stimulasi hormon dan neural
serta elastisitas pembuluh darah (Ganong, 2010). Mekanisme dasar hipertensi
ditentukan oleh curah jantung (cardiac output ) dan tahanan vaskular perifer
(peripheral vascular resistance). Hipertensi terjadi jika curah jantung dan
tahanan vaskuler perifer meningkat. Curah jantung ditentukan oleh dua faktor
yaitu arus balik vena (venous return) dan kontraksi otot jantung. Sedangkan
tahanan vaskuler perifer ditentukan oleh aktivitas vasokonstriktor dan
vasodilator. Pada hipertensi kronis dapat terjadi hipertrofi vaskuler yang akan
mempengaruhi tahanan vaskuler (Purnomo, 2007).
2.7
GAMBARAN KLINIS
Terjadi
peningkatan tekanan darah kadang merupakan satu-satunya gejala. Gejala lain
yang dirasakan : sakit kepala, kelelahan, sesak nafas, gelisah, pandangan
menjadi kabur, mata berkunang-kunang, mudah marah, telinga berdengung, sulit
tidur, rasa berat ditengkuk, nyeri di daerah bagian belakang, nyeri di dada,
denyut jantung kuat dan cepat, pusing. Dan akan timbul keluhan lain apabila
terjadi komplikasi pada ginjal, otak dan jantung (Widian, 2009).
2.8
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan
non farmakologis merupakan pengobatan tanpa obat – obatan yang diterapkan pada
hipertensi. Dengan cara ini, perubahan tekanan darah diupayakan melalui
pencegahan dengan menjalani perilaku hidup sehat (Junaedi, 2010) seperti:
2.8.1
Menurunkan berat badan sampai batas
ideal
2.8.2
Mengubah pola makan dan makan makanan seimbang
2.8.3
Mengurangi pemakaian garam
2.8.4
Mengurangi / tidak minum –minuman
beralkohol
2.8.5
Olahraga yang tidak terlalu berat
2.8.6
Berhenti merokok
Secara umum, terapi farmakologi menurut
PERKI tahun 2015 pada hipertensi dimulai bila pada pasien hipertensi derajat 1
yang tidak mengalami penurunan tekanan darah setelah > 6 bulan menjalani
pola hidup sehat dan pada pasien dengan hipertensi derajat ≥ 2. Beberapa
prinsip dasar terapi farmakologi yang perlu diperhatikan untuk menjaga
kepatuhan dan meminimalisasi efek samping, yaitu :
1.
Bila memungkinkan, berikan obat dosis
tunggal
2.
Berikan obat generic (non-paten) bila
sesuai dan dapat mengurangi biaya
3.
Berikan obat pada pasien usia lanjut (
diatas usia 80 tahun ) seperti pada usia 55 –80 tahun, dengan memperhatikan
faktor komorbid
4.
Jangan mengkombinasikan angiotensin
converting enzyme inhibitor (ACE-i) dengan angiotensin II receptor
blockers(ARBs)
5.
Berikan edukasi yang menyeluruh kepada
pasien mengenai terapi farmakologi
6.
Lakukan pemantauan efek samping obat
secara teratur.
Joint National Committee (JNC)
tahun 2013 berisikan :
1.
Perubahan
gaya hidup dan terapi obat memberikan manfaat yang berarti bagi pasien
hipertensi.
2.
Target
tekanan darah <140/90 bagi hipertensi tanpa komplikasi dan target tekanan
darah <130/80 bagi hipertensi dengan komplikasi.
3.
Diuretik
tiazid merupakan obat pilihan pertama untuk mencegah komplikasi kardiovaskuler.
4.
Hipertensi
dengan komplikasi pilihan pertama diuretik tiazid tapi bisa juga digunakan
penghambat ACE (captopril, lisinopril, ramipril, dll), ARB (valsartan,
candesartan dll), beta bloker (bisoprolol) dan antagonis kalsium (nifedipin,
amlodipin dll) bisa juga dipertimbangkan.
5.
Pasien
hipertensi dngan kondisi lain yang menyertai seperti gagal ginjal dan
lain-lain, obat antihipertensi disesuaikan dengan kondisinya.
6.
Monitoring
tekanan darah dilakukan 1 bulan sekali sampai target tercapai dilanjutkan
setiap 2 bulan, 3 bulan atau 6 bulan. Semakin jauh dari pencapaian target
tekanan darah, semakin sering monitoring dilakukan.
2.9
KOMPLIKASI
Hipertensi merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya penyakit jantung,
gagal jantung kongesif, stroke, gangguan penglihatan dan penyakit ginjal.
Tekanan darah yang tinggi umumnya meningkatkan resiko terjadinya komplikasi
tersebut. Hipertensi yang tidak diobati akan mempengaruhi semua sistem organ
dan akhirnya memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun. (Cardiology
Channel, 2008). komplikasi hipertensi. Terjadinya penyakit jantung
koroner dapat dibagi dalam 3 tahap yaitu inisiasi, progesi dan terminasi. Tahap
inisiasi ditandai dengan terjadinya luka (injury) pada lapisan endotelium
pembuluh darah. Pada tahap progesi, luka tersebut menyebabkan terjadinya
akumulasi beberapa senyawa lemak dan sel-sel serta platelet menjadi plaque yang
semakin lama semakin membesar sehingga dapat menyumbat aliran darah. Terjadinya
penyumbatan aliran darah itu akan memulai tahap terminal yang ditandai dengan
terjadinya trombosis, kerusakan otot jantung dan kematian. Terdapat dugaan
bahwa produk hasil oksidasi lemak dapat
mempercepat berlangsungnya tahap-tahap tersebut (Muchtadi, 2013)
1. Stroke
a.
Definisi Stroke
Stroke adalah suatu sindrom klinis yang ditandai
dengan hilangnya fungsi otak secara akut dan dapat menimbulkan kematian (World Health Organization [WHO], 2014).
Stroke adalah suatu keadaan yang mengakibatkan seseorang mengalami kelumpuhan
atau kematian karena terjadinya gangguan perdarahan di otak yang menyebabkan
kematian jaringan otak (Batticaca, 2009). Stroke terjadi akibat pembuluh darah
yang membawa darah dan oksigen ke otak mengalami penyumbatan dan ruptur,
kekurangan oksigen menyebabkan fungsi control gerakan tubuh yang dikendalikan
oleh otak tidak berfungsi (American Heart
Association [AHA], 2015)
Stroke di bagi menjadi 2
berdasarkan penyebabnya, yaitu :
1) Stroke hemoragi
Merupakan stroke yang disebabkan oleh perdarahan intra
serebral atau perdarahan subarakhniod karena
pecahnya pembuluh darah otak pada area
tertentu sehingga darah memenuhi jaringan otak (AHA, 2015). Perdarahan yang
terjadi dapat menimbulkan gejala neurologik dengan cepat karena tekanan pada saraf di dalam tengkorang yang ditandai
dengan penurunan
kesadaran, nadi
cepat, pernapasan cepat, pupil mengecil, kaku kuduk, dan hemiplegia (Sylvia,
2005 ; Yeyen, 2013).
2) Stroke Iskemik
Merupakan stroke yang disebabkan oleh suatu gangguan
peredaran darah otak berupa obstruksi atau sumbatan yang menyebabkan hipoksia
pada otak dan tidak terjadi perdarahan (AHA, 2015). Sumbatan tersebut dapat
disebabkan oleh trombus (bekuan) yang terbentuk di dalam pembuluh otak atau
pembuluh organ selain otak (Sylvia, 2005). Stroke ini ditandai dengan kelemahan
atau hemiparesis, nyeri kepala, mual muntah, pendangan kabur, dan disfagia
(Wanhari, 2008 dalam Yeyen, 2013).
b.
Penyebab Stroke
Menurut Smeltzer dan Bare (2012) stroke biasanya diakibatkan oleh salah
satu dari empat kejadian dibawah ini, yaitu :
1)
Trombosis yaitu bekuan darah di dalam
pembuluh darah otak atau leher. Arteriosklerosis serebral adalah penyebab utama
trombosis, yang adalah penyebab paling umum dari stroke. Secara umum, trombosis
tidak terjadi secara tiba-tiba, dan kehilangan bicara sementara, hemiplegia,
atau paresthesia pada setengah tubuh
dapat mendahului paralisis berat pada beberapa jam atau hari.
2)
Embolisme serebral yaitu bekuan darah
atau material lain yang dibawa ke otak dari bagian
tubuh yang lain.
Embolus biasanya
menyumbat
arteri serebral tengah atau cabang-cabangnya yang merusak sirkulasi serebral
(Valante et al, 2015).
3)
Iskemia yaitu penurunan aliran darah ke
area otak. Iskemia terutama karena konstriksi atheroma pada arteri yang
menyuplai darah ke otak (Valante et al, 2015).
4)
Hemoragi serebral yaitu pecahnya
pembuluh darah serebral dengan perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang
sekitar otak. Pasien dengan perdarahan dan hemoragi mengalami penurunan nyata
pada tingkat kesadaran dan dapat menjadi stupor atau tidak responsif.
Akibat dari keempat kejadian di atas maka terjadi
penghentian suplai darah ke otak, yang menyebabkan kehilangan sementara atau
permanen fungsi otak dalam gerakan, berfikir, memori, bicara, atau sensasi.
c.
Faktor
Risiko Stroke
Faktor risiko terjadinya stroke secara garis besar
dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu, faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan
faktor yang dapat dimodifikasi (AHA, 2015).
1) Faktor risiko
yang tidak dapat dimodifikasi
Faktor-faktor tersebut terdiri atas faktor genetik dan
ras, usia, jenis kelamin, dan riwayat stroke sebelumnya (AHA, 2015). Faktor
genetik seseorang berpengaruh karena individu yang memiliki riwayat
keluarga dengan stroke
akan memiliki risiko tinggi
mengalami stroke, ras kulit hitam lebih sering mengalami hipertensi dari pada
ras kulit putih sehingga ras kulit hitam memiliki risiko lebih tinggi terkena
stroke (AHA,2015). Stroke dapat terjadi pada semua rentang usia namun semakin
bertambahnya usia semakin tinggi pula resiko terkena stroke, hal ini sejalan
dengan hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia (Riskesdas) tahun 2013 yang
menyatakan bahwa usia diatas 50 tahun risiko stroke menjadi berlipat ganda pada
setiap pertambahan usia. Jenis kelamin merupakan salah satu faktor risiko
stroke, menurut Wardhana (2011) laki-laki memiliki resiko lebih tinggi terkena
stroke dibandingkan perempuan, hal ini
terkait kebiasaan merokok, risiko terhadap hipertensi, hiperurisemia,
dan hipertrigliserida lebih tinggi pada laki-laki. Seseorang yang pernah
mengalami serangan stroke yang dikenal dengan Transient Ischemic Attack (TIA) juga berisiko tinggi mengalami
stroke, AHA (2015) menyebutkan bahwa 15% kejadian stroke ditandai oleh serangan
TIA terlebih dahulu.
2) Faktor risiko
yang dapat diubah
Faktor risiko yang dapat diubah adalah obesitas (kegemukan), hipertensi, hiperlipidemia,
kebiasaan merokok, penyalahgunaan alkohol dan obat, dan pola hidup tidak sehat
(AHA, 2015). Secara tidak langsung obesitas memicu terjadinya stroke yang
diperantarai oleh sekelompok penyakit
yang ditimbulkan akibat obesitas, selain itu obesitas juga salah satu
pemicu utama dalam peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler (AHA, 2015).
Hipertensi merupakan penyebab utama terjadinya stroke, beberapa studi
menunjukkan bahwa manajemen penurunan
tekanan darah dapat menurunkan resiko stroke sebesar 41% (AHA, 2015 ; WHO,
2014). Hiperlipidemia atau kondisi yang ditandai dengan tingginya kadar lemak
di dalam darah dapat memicu terjadinya sumbatan pada aliran darah (AHA, 2015).
Menurut Stroke Association (2012) dan
AHA (2015) individu yang merokok dan mengkonsumsi minuman beralkohol memiliki
resiko lebih tinggi terkena stroke karena dapat memicu terbentuknya plak dalam
pembuluh darah. Faktor-faktor diatas dapat diubah untuk menurunkan resiko
stroke dengan menerapkan pola hidup sehat.
d.
Patofisiologi
Oksigen sangat penting untuk otak, jika terjadi
hipoksia seperti yang terjadi pada stroke, di otak akan mengalami perubahan
metabolik, kematian sel dan kerusakan permanen yang terjadi dalam 3 sampai
dengan 10 menit (AHA, 2015). Pembuluh darah yang paling sering terkena adalah
arteri serebral dan arteri karotis interna yang ada di leher (Guyton &
Hall, 2012).
Adanya gangguan pada peredaran darah otak dapat
mengakibatkan cedera pada otak melalui beberapa mekanisme, yaitu penebalan dinding pembuluh darah
(arteri serebral) yang menimbulkan penyembitan sehingga aliran darah tidak
adekuat yang selanjutnya akan terjadi iskemik. 2) Pecahnya dinding pembulh
darah yang menyebabkan hemoragi. 3) Pembesaran satu atau sekelompok pembuluh
darah yang menekan jaringan otak. 4) Edema serebral yang merupakan pengumpulan
cairan pada ruang interstitial jaringan otak (Smeltzer dan Bare, 2012).
Penyempitan pembuluh darah otak mula-mula menyebabkan
perubahan pada aliran darah dan setelah terjadi stenosis cukup hebat dan
melampaui batas krisis terjadi pengurangan darah secara drastis dan cepat.
Obtruksi suatu pembuluh darah arteri di otak akan menimbulkan reduksi suatu
area dimana jaringan otak normal sekitarnya masih mempunyai peredaran darah
yang baik berusaha membantu suplai darah melalui jalur-jalur anastomosis yang
ada. Perubahan yang terjadi pada kortek akibat oklusi pembuluh darah awalnya
adalah gelapnya warna darah vena, penurunan kecepatan aliran darah dan dilatasi
arteri dan arteriola (AHA, 2015).
e.
Tanda
dan gejala
Menurut Smeltzer dan Bare (2012) dan Misbach (2007)
tanda dan gejala dari stroke adalah
hipertensi, gangguan motorik yang berupa hemiparesis (kelemahan) dan hemiplegia
(kelumpuhan salah satu sisi tubuh), gangguan sensorik, gangguan visual,
gangguan keseimbangan, nyeri kepala
(migran atau vertigo),
mual muntah, disatria
(kesulitan berbicara), perubahan mendadak status mental, dan hilangnya
pengendalian terhadap kandung kemih.
f.
Penatalaksanaan stroke
1) Fase akut
Fase akut stroke berakhir 48 sampai 72 jam.
Pasien yng
koma pada saat masuk dipertimbangkan memiliki prognosis buruk.
Sebaliknya pasien sadar penuh mempunyai prognosis yang lebih dapat diharapkan.
Prioritas dalam fase akut ini adalah mempertahankan jalan nafas dan ventilasi
yang baik (Smeltzer dan Bare, 2012).
2) Fase rehabiliasi
Fase rehabilitasi stroke adalah fase pemulihan pada
kondisi sebelum stroke. Program pada fase ini bertujuan untuk mengoptimalkan
kapasitas fungsional pasien stroke, sehingga mampu mandiri dalam melakukan
aktivitas sehari-hari adekuat (Smeltzer dan Bare, 2012).
g.
Kemampuan
activity daily living (ADL) pasien stroke
Gangguan akibat stroke sering menimbulkan gejala sisa
yang berupa hemiplegia (kelumpuhan pada setengah anggota tubuh) dan hemparesis
(kelemahan otot) yang dapat menjadi kecacatan menetap yang selajutnya membatasi
fungsi seseorang dalam melakukan ADL. Mengembalikan kemandirian
dalam melakukan aktivitas sehari-hari setelah stroke
merupakan fokus utama rehabilitasi stroke fase relabilitasi (Rosiana, 2009).
Pada saat rehabilitasi pasien dapat dirawat di rumah
sakit, pusat rehabilitasi, maupun rumahnya sendiri bergantung pada beberapa
faktor, termasuk status ketergantungan pasien stroke. Salah satu alat ukur
tingkat ketergantungan pasien stroke adalah Barthel
Indeks (BI) yang dirumuskan oleh Mahoney, F.I. dan Barthel D.W. untuk
mengukur ketergantungan ADL, yang hasil ukurnya yaitu ketergantungan total (skor
0 – 20), ketergantungan berat (25 – 40), ketergantungan sedang (skor 45 – 55),
ketergantungan ringan (skor 60
– 95), dan mandiri (skor 100)
(Syairi, 2013).
Pasien stroke yang akan kembali ke rumah seharusnya di
motivasi untuk mengerjakan aktivitas perawatan dirinya sendiri semampunya,
setidaknya klien bisa melakukan ADL dasar yaitu, makan, berpakaian, mandi,
berdandan, toileting, kontrol kontinensia, transfer (berpindah), dan mobilisasi
(Bogousslavsky, 2005). Pasien juga di sarankan menggunakan kedua sisi tubuh
dalam melakukan ADL tersebut, contohnya apabila sisi kanan yang terkena,
pasien dapat diajarkan untuk menggunakan
tangan kirinya untuk semua aktivitas namun, pastikan juga tangan yang sakit
diikutsertakan dalam semua kegiatan. Semakin cepat dibiarkan melakukannya
sendiri, semakin cepat pula
pasien menjadi mandiri.
Hanya aktivitas yang dapat menimbulkan risiko jatuh atau
membahayakan pasien sendiri yang perlu ditolong oleh keluarga (Rosiana, 2009).
2. Perawat
a.
Definisi Perawat
Menurut
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan (UU
No. 38 Tahun 2014), perawat didefinisikan sebagai seseorang yang telah lulus
pendidikan tinggi keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui
oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan, sedangkan
keperawatan adalah kegiatan pemberian asuhan kepada individu, keluarga,
kelompok, atau masyarakat, baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Menurut
Standar Kompetensi Perawat Indonesia Persatuan Perawat Nasional Indonesia (SKPI
PPNI) perawat adalah seseorang yang lulus pendidikan tinggi keperawatan baik di
dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah RI sesuai dengan
peraturan perundangan dan telah disiapkan untuk memiliki kompetensi yang ditetapkan
oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia serta teregistrasi (SKPI PPNI, 2012).
b.
Fungsi
Proses Keperawatan
Menurut SKPI PPNI (2012) fungsi
proses keperawatan yaitu :
1)
Memberikan pedoman dan arahan secara
sistematis dan ilmiah untuk tenaga keperawatan dalam memecahkan masalah klien
melalui asuhan keperawatan.
2)
Memberi ciri professional asuhan
keperawatan melalui pendekatan problem solving dan pendekatan
komunikasi yang efektif dan efisien.
3)
Memberikan kebebasan pada klien dalam
mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai dengan kebutuhannya dan
kemendiriannya di bidang kesehatan.
c.
Tindakan
Keperawatan oleh perawat
Alfaro dan Carpenito (2000) dalam Yeyen (2013)
menyatakan bahwa tindakan keperawatan dalam proses perawatan meliputi penerapan
keterampilan yang perlu pengaplikasian dari intervensi keperawatan.
Keterampilan dan pengetahuan yang perlu untuk diaplikasikan difokuskan pada :
1) Membantu klien
atau melakukan aktivitas untuk klien.
2)
Mengidentifiksi masalah baru atau
memantau status atau masalah yang ada dengan pengkajian keperawatan.
3)
Melakukan penyuluhan atau pendidikan
kesehatan untuk membantu klien.
4)
Membantu dalam membuat keputusan tentang
perawatan kesehatan klien.
5)
Konsultasi dan rujuk pada professional
perawatan kesehatan lain untuk memperoleh arahan yang tepat.
6)
Memberikan tindakan perawatan spesifik
untuk mengurangi, mengatasi, atau menghilangkan masalah kesehatan.
7) Membantu klien
untuk melakukan aktivitas mereka sendiri.
8)
Mengidentifikasi resiko atau masalah
pada klien dan menggali pilhan yang tersedia.
d.
Peran Perawat
Peran
perawat menurut SKPI PPNI (2012) secara umum adalah memberi :
1)
Care
provider: Menerapkan keterampilan berfikir kritis dan
pendekatan sistem untuk penyelesaian masalah serta pembuatan keputusan
keperawatan dalam konteks pemberian asuhan keperawatan yang dimulai dari proses
pengkajian sampai evaluasi secara komprehensif dan holistik berlandaskan aspek
etik dan legal.
2)
Community
leader: Menjalankan kepemimpinan di berbagai komunitas, baik
komunitas profesi maupun komunitas sosial.
3)
Educator:
Mendidik
Klien dan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.
4)
Manager:
Mengaplikasikan
kepemimpinan dan manajemen keperawatan dalam asuhan klien.
5)
Researcher:
Melakukan
penelitian sederhana keperawatan dengan cara menumbuhkan kuriositas, mencari
jawaban terhadap fenomena klien, menerapkan hasil kajian dalam rangka membantu mewujudkan Evidence Based Nursing Practice (EBNP).
e.
Peran
perawat pada pasien stroke
Perawat
sebagai pemberi asuhan keperawatan (care
provider) dalam melaksanakannya
harus secara komprehensif dan holistik berlandaskan aspek etik dan legal. Asuhan keperawatan pada
pasien stroke tidak hanya berfokus pada gangguan fisik semata, namun juga perlu
melihat pada proses pemenuhan kebutuhan dasar pasien (SKPI PPNI, 2012). Menurut
Doctherman (2008) dan Irish Heart
Fundation (2015) peran perawat pada pasien stroke terutama dalam pemenuhan
ADL pasien antara lain mengkaji kebutuhan ADL pasien stroke yang bertujuan
untuk mengetahui perkembangan keadaan pasien sehingga dapat untuk menentukan
rencana tindak lanjut yang sesuai dengan keadaan pasien, membantu ADL pasien
stroke sehingga pasien dapat lebih mudah dalam melakukan ADL, serta mengajarkan
kepada keluarga cara merawat dan membantu ADL pasien stroke sehingga keluarga
dapat membantu ADL pasien stroke dan dapat melatih kemandirian pasien stroke.
3. Activites of
Daily Living (ADL)
a.
Definisi ADL
ADL merupakan aktivitas pokok berupa perawatan diri
yang dilakukan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (Smeltzer
& Bare, 2012). Istilah ADL mengacu kepada aktivitas harian yang dibutuhkan
dalam kehidupan secara mandiri dan juga berhubungan dengan manajemen perawatan
diri seperti berpakaian, mandi, makan, menggunakan toilet, manajemen
kontinensia, berpindah, dan mobilitas dasar (Whitehead et al., 2013) Menurut Sugiarto (2005) dan Hardywinoto &
Setiabudi (2005) ADL meliputi
berpakaian, makan & minum, toileting, mandi, berhias, kontinensis buang air
besar dan buang air kecil, dan kemampuan mobilitas.
b.
Jenis
– jenis ADL
ADL
dapat diklasifikasikan menjadi Basic
Activites Daily Living (BADL) dan Instrumental Activites Daily Living (IADL).
1) Basic Activites Daily Living (BADL)
BADL terdiri dari kebutuhan dasar seperti perilaku
slef- care yang meliputi mobilisasi, berpakaian, berhias, mandi, makan, dan toileting.
Sugiarto (2005) juga memasukkan kontinensia buang air besar dan buang air kecil
dalam BADL.
2) Instrumental Activites Daily Living (IADL)
IADL merupakan aktivitas yang berhubungan dengan
penggunaan alat penunjang dalam melakukan ADL yang terdiri dari transfer,
menggunakan telepon, persiapan makan, manajemen medikasi, manajemen finansial,
melakukan pekerjaan rumah tangga, mencuci, dan belanja (Sugiarto, 2005).
c.
Faktor
yang mempengaruhi ADL Pasien Stroke
Menurut Junaidi
(2011) dan Parekh (2013) Fakto yang mempengaruhi ADL pada pasien
stroke adalah :
1) Jenis Stroke dan
Tingkat Keparahan Stroke
Junaidi (2011) menyebutkan bahwa pasien dengan stroke
Infark memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan pasien yang mengalami
stroke Hemoragik. Selain itu, tingkat keparahan stroke yang dialami pasien
menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan pasien melakukan ADL. Hal
tersebut dikarenakan kondisi stroke yang semakin parah akan menghambat proses
rehabilitasi dalam mengembalikan kemampuan
ADL pasien (Parekh, 2013).
2) Komplikasi Penyakit
Sebagian besar pasien yang angka ketergantungan ADL
tinggi merupakan pasien yang memiliki komplikasi penyakit di bandingkan dengan
yang tingkat ketergantungan ADL sedang sampai ringan (Junaidi, 2011).
Komplikasi penyakit yang terjadi pada pasien adalah hipertensi, diabetes
militus dan juga penyakit jantung coroner yang dikarenakan hipertensi.
Hipertensi dapat menipiskan dinding pembuluh darah dan merusak bagian dalam
pembuluh darah yang mendorong terbentuknya plak arterosklerosis sehingga
memudahkan terjadinya penyumbatan atau perdarahan otak (Junaidi, 2011).
3) Usia
Semakin tua usia pasien maka semakin berat tingkat
ketergantungannya dalam melakukan aktivitas. Hal ini terjadi karena penurunan
fungsi tubuh yang terjadi pada pasien karena umurnya sudah lansia dan mereka
lebih cenderung pasrah dengan keadaannya karena mereka merasa sudah tua,
sehingga dalam melakukan
pengobatan mereka cenderung
tidak begitu aktif sehingga
penyembuhan pun semakin lama dan tidak optimal (Parekh, 2013). Usia tua
mengakibatkan daya tahan jasmani maupun rohani pria ataupun wanita menjadi
sangat berkurang (Junaidi, 2011)
4) Dukungan Keluarga
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lutz dan
Young (2010) menyatakan bahwa pasien stroke yang mendapatkan sistem dukungan sosial dan fungsi caregiving dari keluarga yang baik untuk
membantu kebutuhan pemulihan fungsi kemampuan ADL pasien stroke. Berdasarkan
data dari Family Caregiver Alliance (FCA)
(2012) sebanyak 51% family caregiver yang
merawat pasien dengan disabilitas berada pada rentang usia 18 sampai 49 tahun.
Selain itu, tingkat pendidikan family
caregiver juga mempengaruhi pengetahuan dan perilaku dalam merawat pasien
stroke (Hartati, 2012).
. 2.10 Kerangka Teori
